Membedah Historis Dewi Lin Mo Niang Di Klenteng Tjoe Hwie Kiong Kediri

indonesiasatu, 26 Apr 2019, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

KEDIRI - Patung yang berdiri kokoh menghadap Gunung Wilis dan tepat didepannya aliran Sungai Berantas membelah Kota Kediri. Patung tersebut adalah perwujudan dari Mak Co Tian Siang Sing Bo. Untuk mengenal lebih dalam sosok tersebut, Babinsa Pakelan, Serda Abu Nur Arifin mengunjungi Klenteng Tjoe Hwie Kiong, dan ditempat ini, Prajitno Sutikno, selaku pengurus klenteng, segala hal terkait sosok Mak Co Tian Siang Sing Bo, dijelaskannya secara detail. kamis (25/4/2019)

Dikatakan Prajitno, dahulu kala atau tepatnya tahun 960 masehi, lahirlah Lin Mo Niang di Meizhou, Fujian. Dalam kesehariannya, Lin Mo Niang termasuk kategori ber-IQ tinggi, namun bukan berarti ia melupakan hal lainnya yang tak kalah penting, seperti belajar, berdoa, berbakti kepada orang tua dan peduli terhadap sesama.

Selain ber-IQ tinggi, Lin Mo Niang juga memiliki kemampuan menyembuhkan segala jenis penyakit, lantaran kelebihannya tersebut, warga sekitar menyebutnya “Ling Nu” atau "Long Nu" atau "Shen Gu".

Talenta yang tak kalah mencengangkan, ia menyandang perenang yang hebat, dan karena kehebatannya itulah, ia sering membantu para nelayan dalam hal navigasi. Kendati seburuk apapun cuaca saat itu, Lin Mo Niang tetap melakukan navigasi kepada para nelayan.

Prajitno menambahkan, pernah suatu ketika ada badai menerjang tempat dimana saudara-saudaranya mencari ikan dilaut, dan efek kemunculan badai tersebut sangat terasa. Namun, dengan kekuatannya, saudara-saudaranya berhasil diselamatkan, walaupun pada saat itu, Lin Mo Niang berada di rumah dalam keadaan menenun kain. Untuk kisah yang satu ini, ternyata tidak hanya satu versi saja, tetapi banyak versi, namun walaupun berbeda versi, alur cerita ada kemiripan satu sama lain.

Pada masa pemerintahan Kaisar Tai Zong pada tahun 987 masehi, penduduk Meizhou melihat awan berwarna-warni menyelimuti seluruh daratan. Diatas, terdengar alunan musik merdu dan Lin Mo Niang perlahan-lahan naik ke angkasa untuk dinobatkan sebagai Dewi. Selang setahun kemudian, penduduk Meizhou membangun kuil di tempat Lin Mo Niang diangkat ke angkasa, dan kuil tersebut merupakan kuil pertama Tian Shang Sheng Bo.

Dijelaskan Prajitno, Tian Shang Sheng Mu atau lebih dikenal Tian Shang Sheng Bo, disebut Mak Co atau Ma Zhu, hal ini disebabkan selama hidupnya, segala kebajikan dan kebijakan ada dalam diri Lin Mo Niang atau Lin San Ren. Selain itu, ia juga disebut Dewi pelaut.

Menurut sejarah, pada tahun 1122 masehi di masa pemerintahan Kaisar Song Hui Zong, seorang menteri bernama Lu Yun bersama anak buahnya, berlayar dengan mebawa 8 kapal sekaligus menuju negeri Gaoli, namun ditengah perjalanan mereka dihantam badai yang begitu hebat.

Mujizat terjadi, 1 kapal diantara 8 kapal yang tenggelam usai dihantam badai, dinyatakan selamat. Diketahui, kapal yang selamat dari serangan badai tersebut ternyata berisikan anak buah Lu Yun yang terbiasa bersembahyang kepada Dewi Lin Mo Niang, untuk meminta perlindungan saat berada di lautan.

Atas kejadian tersebut Kaisar Song Hui Zong, usai mendapat laporan resmi dari Lu Yun, memberi gelar “Sun Ji Fu Ren” kepada Dewi Lin Mo Niang, sekaligus mempersembahkan papan bertuliskan “Sun Ji” untuk dipasang di kuli Meizhou.

“Perwujudan dari Tian Shang Sheng Mu atau Tian Shang Sheng Bo adalah wanita cantik yang mengenakan jubah, serta duduk di atas tahta. Mak Co selalu memakai pakaian kebesaran seorang permaisuri yang bertaburkan permata dan mahkota khas kekaisaran,” kata Prajitno.

Menurut catatan sejarah, Jenderal Cheng Ho juga membawa arca Tian Shang Sheng Bo dalam ketujuh pelayarannya yang terkenal, dan sudah menjadi umum para pelaut di era itu membuat ruang khusus altar Tian Shang Sheng Mu didalam kapal.

Sesuai rencana, Klenteng Tjoe Hwie Kiong bakal mengadakan perayaan HUT Mak Co Tian Shang Sheng Bo ke-1059, dan untuk melengkapinya, segala rangkaian kegiatan digabungkan dengan perayaan HUT Klenteng Tjoe Hwie Kiong.

Pada perayaan tersebut, tepat 26 April 2019 bakal dihelat pagelaran wayang semalam suntuk, selanjutnya tanggal 27 April digelar panggung gembira dan 28 April mendatang, diadakan jalan sehat. Ketiga kegiatan tersebut diadakan di Klenteng Tjoe Hwie Kiong, dan tentunya kegiatan tersebut tidak sekedar perayaan biasa, namun sudah menjadi hiburan tersendiri bagi warga Kota Kediri. (aang)

 

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu